Sunday, August 18, 2013

0 Apa Jadinya Bumi Tanpa Bulan?


Bulan merupakan satelit bumi. Semua penduduk bumi mengenalnya. Ia dijadikan dasar penanggalan hijriah bagi umat Islam. Ia berperan dalam cerita legenda manusia serigala. Di kala purnama, ia ikut menerangi bumi di malam hari. Bahkan ia dijadikan bahan rayuan gombal, “Wajahmu seelok bulan….” Padahal sebetulnya permukaan di bulan itu banyak terdapat kawah dan gunung. Jadi orang yang wajahnya diserupakan dengan bulan adalah orang yang wajahnya tidak rata… Hehehe :D 

Pentingkah bulan? Apa jadinya bumi tanpa bulan?

Ukuran bulan hanyalah 2% dari ukuran bumi. Sangat kecil. Namun ukurannya yang kecil ini tidak berarti kecil pula peranannya bagi bumi. Bulan tak hanya sebatas pendamping bumi. Bukan pula sekedar penghias bumi. Bulan sebenarnya memberikan sumbangsih yang besar terhadap planet yang kita tinggali ini. Mungkin Anda pernah mempertanyakan, mengapa permukaan air laut mengalami pasang surut? Nah, di sinilah peranan bulan. Interaksi gaya gravitasi antara bulan dan bumi menyebabkan permukaan air laut turun dan naik secara berkala. Bagian bumi yang berada dekat dengan bulan akan mengalami air pasang, sedangkan bagian bumi yang berada di sampingnya akan mengalami air surut. Untuk lebih memahami mekanisme ini, perhatikan gambar berikut.


Apakah hanya itu peranan bulan? Tidak. Anda mungkin tidak pernah menduga peranan bulan berikut ini.

Seperti semua planet dan satelit anggota tata surya, bumi senantiasa melakukan rotasi. Rotasi bumi artinya bumi berputar terhadap porosnya sendiri. Di permukaan bumi terdapat air laut. Akibat gravitasi bumi, air laut semestinya mengikuti pergerakan bumi sepenuhnya. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Tertariknya air laut oleh gravitasi bulan menyebabkan air laut tersebut tidak sepenuhnya mengikuti gerakan rotasi bumi. Akibatnya, terjadi gesekan antara air laut dan permukaan bumi. Gesekan ini menyebabkan kecepatan rotasi bumi melambat dari waktu ke waktu. Bagaimanapun, laju perlambatan ini sangat kecil, sehingga kita tidak merasakannya secara jelas. Melambatnya putaran bumi baru terasa jelas jika kita membandingkan dua periode bumi yang jedanya ribuan bahkan jutaan tahun.

Pada masa kita sekarang, satu hari sama dengan 24 jam. Akan tetapi jutaan tahun yang lalu, satu hari kurang dari 24 jam. Bumi pernah mengalami periode di mana satu hari sama dengan 10 jam! Sebaliknya, jutaan tahun ke depan, mungkin saja satu hari menjadi 40 jam! 

Para ilmuwan telah menemukan bukti bahwa, jutaan tahun yang lalu, kecepatan rotasi bumi memang jauh lebih cepat daripada sekarang. Di masa itu, satu hari bumi kurang dari 24 jam. Hal ini mereka simpulkan dari keadaan fosil biota laut. Ada satu jenis biota laut, yaitu sejenis koral, yang pola lekuknya tergantung dari pergerakan sinar matahari. Jika pergerakan sinar matahari semakin cepat, maka polanya semakin rapat. Dan sebaliknya. Ternyata pola lekukan fosil biota laut tersebut jauh lebih rapat daripada yang ada sekarang ini. Artinya, jaman dahulu bumi berputar lebih cepat sehingga pergerakan sinar matahari pun lebih cepat.  

Tanpa bulan, mungkin saja hari ini kita mengalami satu hari bumi yang lamanya hanya 5 jam….

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:

Wednesday, August 14, 2013

1 Apa Itu Kesetrum?


Penemuan elektron oleh J.J. Thomson pada tahun 1896 menjadi tonggak perkembangan kelistrikan. Listrik telah menjadi energi populer, tempat bergantung umat manusia di dunia setiap hari. Coba saja listrik kota mati sehari, kita sudah bingung tak alang kepalang :D Selain memang manfaatnya yang vital, listrik juga mengandung resiko yang fatal, salah satunya yaitu fenomena kesetrum. Apa itu kesetrum? Apa syarat-syarat terjadinya peristiwa kesetrum? Apakah seseorang yang memegang kabel listrik pasti akan kesetrum?

Sebelum lebih jauh membahas kesetrum, perlu kita perjelas terlebih dahulu apa itu listrik.

Seperti kita ketahui bersama, setiap materi yang ada di semesta ini tersusun atas atom-atom. Di dalam atom terdapat elektron. Salah satu sifat elektron adalah dapat berpindah dari satu atom ke atom yang lain. Akan tetapi, atom-atom menyukai kestabilan. Mereka menyukai kandungan elektron yang normal. Ketika terjadi kelebihan elektron pada satu atom, maka elektron tersebut cenderung ingin berpindah ke atom lain yang kekurangan elektron. Ketika dua atom (yang kelebihan dan yang kekurangan elektron) tersebut terhubung, maka terjadilah aliran elektron. Nah, inilah yang disebut listrik. Jadi, listrik sebenarnya adalah aliran elektron. Perlu diingat bahwa tidak semua benda dapat menjadi penghubung (konduktor) bagi aliran elektron. Contoh konduktor listrik adalah besi, tembaga, dan air. Contoh isolator (non-konduktor) adalah karet, plastik, dan kayu.

Jika seseorang mengatakan bahwa dirinya kesetrum, maka sebetulnya yang terjadi adalah tubuhnya menjadi jalur bagi mengalirnya elektron.

Tadi telah saya jelaskan bahwa arus listrik dapat terjadi jika dua area yang mengalami perbedaan jumlah elektron (satu area kelebihan elektron, area yang lain kekurangan elektron) terhubung satu sama lain. Dalam istilah teknis, ketika terjadi hubungan antara kutub positif dan kutub negatif, maka terjadilah arus listrik.  

Kabel instalasi listrik rumah terdiri dari kabel 'hidup' dan kabel ground (pembumian). Kabel 'hidup' merupakan kabel yang mengandung arus listrik bolak-balik (AC). Kabel ground merupakan kabel yang berakhir di bumi, karena arus listrik cenderung ingin menuju bumi. Nah, ketika kita tak sengaja memegang kabel berarus listrik, maka terjadi kontak antara kabel tersebut dan bumi tempat kita berpijak. Akibatnya, terjadilah arus listrik dan kita pun kesetrum. Arus listrik mengalir dari kabel menuju bumi melalui tubuh kita. Hal ini diilustrasikan pada gambar berikut.


Tubuh kita dapat menjadi jalur arus listrik karena tubuh kita merupakan konduktor. Tubuh kita bersifat konduktif karena mengandung air. Air merupakan konduktor listrik. Sifat konduktifitas ini akan semakin besar jika tubuh kita sedang berkeringat, karena air keringat banyak mengandung garam yang mudah terionisasi.

Mungkin Anda pun pernah mendengar bahwa untuk menghindari sengatan listrik, kita dianjurkan memakai sandal. Hal ini benar, karena sandal biasanya terbuat dari bahan isolator seperti karet dan plastik. Isolator ini akan menghalangi tubuh Anda untuk berkontak dengan bumi. Jadi, meskipun Anda menyentuh kabel telanjang berarus listrik, Anda tidak akan kesetrum selama tubuh Anda tidak menyentuh bumi. Arus listrik sendiri "enggan" untuk melewati tubuh Anda karena hambatan yang besar dalam tubuh Anda. Arus listrik lebih memilih mengalir melalui kabel yang berhambatan jauh lebih rendah daripada tubuh Anda. Jadi, seseorang yang memegang kabel listrik belum tentu kesetrum. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku jika Anda menyentuh kabel secara utuh (kabel 'hidup' dan kabel ground-nya terhubung) atau Anda menyentuh kabel 'hidup' saja. Jika Anda memegang kabel 'hidup' di tangan kanan dan kabel ground di tangan kiri, meskipun Anda tidak menyentuh bumi, Anda akan kesetrum karena tubuh Anda menjadi jalur bagi aliran elektron dari kabel 'hidup' ke kabel ground. Dalam hal ini, arus listrik tidak memiliki pilihan lain selain melewati tubuh Anda.

Sebelum melangkah lebih jauh, saya mengingatkan bahwa artikel ini dimaksudkan untuk memberi informasi agar Anda berhati-hati ketika harus berurusan dengan listrik, dan bukan sebagai alasan untuk mencoba bermain-main dengan listrik bertegangan tinggi. Meskipun informasi ini benar, listrik tetaplah listrik yang berbahaya. Kesalahan kecil dapat berakibat fatal.

Sekarang pertanyaannya, mengapa kesetrum itu berbahaya?

Begini. Meskipun dapat mengalirkan listrik, tubuh kita bukanlah konduktor yang baik. Di dalam tubuh kita terkandung hambatan listrik. Jika suatu arus listrik mengalir pada suatu hambatan, maka energi listrik tersebut akan dikonversikan menjadi energi panas pada hambatan yang bersangkutan. semakin besar hambatannya, semakin besar pula panas yang dihasilkan. Dalam bahasa sederhana, energi listrik ini akan “menggosongkan” sel-sel tubuh Anda. Selain itu, dampak yang lebih jelas dari kesetrum adalah tergangunya kerja saraf. Saraf-saraf di dalam tubuh kita memiliki aliran arus listrik lemah dengan polanya sendiri. Ketika kita kesetrum, maka pola arus listrik tubuh kita akan terganggu. Akibatnya, kerja organ-organ vital seperti otak dan jantung pun akan terganggu.

Dampak kesetrum ditentukan oleh besarnya arus dan lamanya arus tersebut mengalir di tubuh kita. Semakin besar arus listrik, semakin berbahaya. Semakin lama ia mengalir, juga semakin berbahaya. Jika Anda kesetrum dengan listrik bertegangan tinggi, maka resiko fatalnya akan lebih besar, karena tegangan yang tinggi akan menimbulkan arus listrik yang lebih besar.

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:
 

DETEKTIF FISIKA Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates