Tuesday, September 30, 2014

3 Dunia Yang Kita Tinggali Ini: Antara Ada Dan Tiada


Cermati lagi dunia di sekeliling Anda. Tanah yang Anda pijaki, udara yang Anda hirup, meja yang Anda duduki, gadget yang Anda mainkan.... Apakah Anda yakin bahwa mereka benar-benar ada di situ? Orang awam pasti menjawab, “Ya tentu saja, benda-benda itu benar-benar ada di situ! Saya dapat melihat dan memegangnya! Apa maksud Anda bertanya seperti itu?!”

Hehehe... Tenang, tidak perlu esmosi :D Jika kita telaah secara fisika, faktanya mungkin akan mencengangkan Anda.

Di sekolah, kita diajari bahwa setiap benda tersusun dari bahan tertentu. Bahan-bahan tersebut tersusun dari molekul. Molekul tersusun dari unsur. Unsur terdiri dari atom. Jadi, semua benda dan materi di sekeliling kita tersusun dari atom-atom. Adapun atom itu sendiri terdiri dari proton, neutron, dan elektron, seperti yang diilustrasikan melalui gambar berikut.

 
Nukleus (inti) atom tersusun oleh proton dan neutron, sedangkan elektron berputar mengitari nukleus. Sayangnya, ilustrasi di atas hanya menggambarkan secara tepat komposisi penyusun atom, namun tidak menggambaran secara tepat komposisi ukuran atom. Sebenarnya, ukuran nukleus dan elektron sangat-sangat kecil sekali dalam sebuah atom. Analoginya, jika sebuah stadion adalah atom, maka nukleusnya adalah sebutir kelereng yang berada di tengah-tengah stadion, sedangkan elektron serupa debu yang beterbangan mengitari kelereng tersebut di seantero stadion.  Bayakangkanlah, seberapa besar stadion serta seberapa kecil kelereng dan debu.

  
Berdasarkan penyelidikan ilmiah, para ilmuwan sampai pada kesimpulan bahwa sebuah atom tersusun dari 99,9999999999999% ruang kosong. Hanya 0,0000000000001% saja dari ruangan atom itu yang terisi oleh proton, neutron, dan elektron. Maka atom dapat dikatakan sebagai suatu wujud yang nyaris kosong-melompong. Dengan kata lain, atom adalah sesuatu yang “nyaris” tidak ada.

Jadi, karena semua materi tersusun dari atom, ketika Anda sedang melihat sebuah batu, sebenarnya Anda sedang melihat sesuatu yang hampir-hampir tidak ada di situ. Ketika Anda bernafas, Anda nyaris tidak menghirup apa-apa. Ketika Anda memegang selembar kertas, Anda seakan-akan memegang sebuah ketiadaan.

Begitu pula dengan tubuh Anda sendiri...... Kosong dan hampa...... 

Begitulah. Dunia ini antara ada dan tiada. Bahkan, dunia ini lebih mengarah ke tidak ada daripada ada. Jadi, jangan mengagung-agungkan dunia ini ini karena Anda sama saja mengagung-agungkan sesuatu yang tidak ada. Terkait dengan topik ini, Anda dapat pula membaca tulisan lain saya, Apakah Kita Benar-Benar Hidup Di Dunia Nyata?, yang mengulas sisi lain dari abstraknya kehidupan dunia ini.


 *******
Ditulis oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:

Monday, September 29, 2014

0 Mengapa Suara Anak Lelaki Menjadi Nge-Bass Ketika Remaja?


Ketika kita mengenal seorang bocah laki-laki, lantas beberapa tahun tidak bertemu dengannya lagi, maka biasanya kita akan menjadi sedikit terkejut dengan perubahan suaranya ketika kita menuinya lagi di saat ia beranjak remaja. Suara anak laki-laki memberat dengan drastis ketika mereka tumbuh dewasa. Dari mana suara bass tersebut berasal?

Untuk memahami fenomena ini, perlu dipahami mekanisme keluarnya suara pada tubuh manusia. Telah umum diketahui bahwa manusia memiliki pita suara di dalam kerongkongan. Organ inilah yang berperan penting dalam produksi suara manusia. Berikut ini adalah gambar pita suara manusia.

Perbedaan kondisi pita suara manusia antara ketika berbicara (atas) dan bernafas (bawah)
 
Ketika kita bersuara, paru-paru menghembuskan udara ke dalam kerongkongan sehingga terjadi aliran udara yang menggetarkan pita suara. Getaran pita suara inilah yang mebghasilkan bunyi dan merambat di udara hingga sampai ke telinga orang yang mendengarnya. Frekuensi (tinggi rendahnya nada) yang dihasilkan pita suara bergantung pada seberapa banyak getaran pita suara tersebut per detiknya. Semakin banyak getaran yang terjadi per detik, maka frekuensinya semakin tinggi (semakin melengking). Sebaliknya, semakin sedikit getaran yang terjadi per detik, maka frekuensinya semakin rendah (semakin berat/ngebass).

Ketika anak lelaki masih berusia balita, pita suaranya masih tipis sehingga mudah bergetar dan menghasilkan banyak getaran per detiknya. Alhasil, suara anak itu masih bernada tinggi sehingga terdengar imut. Namun ketika beranjak remaja, pita suara anak itu menebal sehingga lebih sulit bagi aliran udara untuk menggetarkannya. Banyaknya getaran per detik dari pita suara tersebut pun berkurang sehingga frekuensinya menurun. Akibatnya, suara anak remaja itu menjadi ngebass.

Sebetulnya fenomena ini juga terjadi pada anak perempuan, namun proses penebalannya tidak sebanyak yang terjadi pada anak laki-laki sehingga efeknya ngebass yang timbul tidak sedrastis anak laki-laki.


*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:
 

DETEKTIF FISIKA Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates