Sunday, December 16, 2012

0 Mengapa Naungan Pohon Terasa Sejuk Di Siang Hari?


Cuaca di saat matahari bersinar terik terkadang menyebalkan, terutama ketika kita beraktifitas di alam terbuka. Saat hal ini terjadi, seringkali naungan pohon rindang menjadi malaikat penyelamat :) Naungan pohon memang sungguh sejuk, melindungi tubuh kita dari teriknya matahari.
Pernahkah Anda mempertanyakan, mengapa naungan pohon terasa sejuk?

Mungkin Anda akan menjawab, “Jelas saja bikin sejuk, wong daun-daun pohon itu menghalangi sinar matahari!”

Sekilas, jawaban ini tampak masuk akal. Akan tetapi, jawaban ini tidak tepat, karena tidak semua yang menghalangi sinar matahari dapat menyejukkan Anda. Buktinya, coba Anda berteduh di bawah seng, maka kesejukan tidak akan Anda dapatkan. Justru panas dan gerah yang akan Anda temukan. Mengapa?

Atap seng tidak mampu memberi naungan yang sejuk karena seng termasuk logam, sedangkan logam adalah konduktor panas yang baik. Nah, ketika panas matahari mengenai seng, panas tersebut akan menjalar dengan mudah. Akibatnya, banyak panas yang lolos sampai ke bagian bawah seng. Anda yang berdiri di bawah seng pun akhirnya merasakan panas tersebut.

Jadi, mengapa naungan pohon terasa begitu sejuk?

Tumbuhan senantiasa memerlukan sinar matahari untuk keperluan fotosintesis. Bagian tumbuhan yang bertugas mengumpulkan sinar matahari itu adalah daun. Jadi, alih-alih meneruskan panas, daun justru menyerap panas itu untuk diubah menjadi energi fotosintesis. Akibatnya, tidak ada penjalaran panas ke bagian bawah daun, dan ini menghadirkan suasana sejuk bagi Anda yang bernaung di bawahnya.

Prinsip-prinsip ini dapat Anda gunakan untuk menjelaskan mengapa atap genteng terasa lebih menyejukkan ketimbang atap seng, dan mengapa kita perlu memasang plafon tripleks di bawah atap seng. Semuanya berdasar pada sifat konduktifitas benda terhadap panas.

Selain bersifat menyerap panas matahari, ada satu hal lagi yang membuat bernaung di bawah pohon terasa begitu nyaman. Begini. Produk sampingan dari hasil fotosintesis adalah oksigen. Oksigen dikeluarkan melalui stomata, yang banyak terdapat di permukaan bawah daun. Kehadiran suplai oksigen ini membuat pernafasan Anda terasa lebih segar ketika bernaung di bawah pohon.

Nah, mudah-mudahan sekarang Anda telah mengerti mengapa naungan pohon terasa sejuk di siang hari ^_^

*******
(Ditulis Oleh Doni Aris Yudono)

Sumber Gambar:

Thursday, December 13, 2012

0 Mengapa Kilat Selalu Mendahului Guntur?


Pertama-tama, bagi Anda yang belum tahu, perlu ditegaskan dulu perbedaan antara kilat dan guntur. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa kilat adalah cahayanya, sedangkan guntur adalah suaranya. Jika pengertian kilat dan guntur disatukan, maka namanya petir. Seperti kita ketahui, efek guntur lebih dahsyat daripada kilat. Suara seperti ledakan yang menggelegar, sampai-sampai menggetarkan kaca jendela, tak ayal membuat nyali ciut. Mungkin inilah sebabnya kata “Guntur” lebih nge-trend untuk dijadikan nama orang ketimbang “Kilat”... Hehehe....

Akan tetapi, jika Anda perhatikan dengan seksama, ternyata kilat selalu mendahului guntur. Dengan kata lain, kita melihat cahayanya dulu, baru kemudian mendengar suaranya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Kata kuncinya sederhana: kelajuan cahaya jauh lebih besar daripada kelajuan suara. Di ruang hampa, cahaya memiliki kelajuan sekitar 300.000 kilometer per detik. Di ruang atmosfer, nilai kelajuan cahaya ini sedikit mengecil, yaitu hanya berkurang sekitar 90 kilometer per detik. Bagaimana dengan suara? Ternyata kelajuan suara hanya sekitar 300 meter per detik. Tampaklah jelas bahwa kelajuan cahaya sekitar 1 juta kali lebih besar daripada kelajuan suara. Wow....

Ketika petir terjadi, cahaya kilat dan suara gunturnya melaju bersamaan ke segala arah, termasuk ke telinga kita. Dengan kelajuan satu juta kali lipat lebih besar, mudah ditebak, cahaya kilat yang jadi juara dan duluan sampai ke telinga kita. Suara guntur kalah, sehingga terdengar belakangan.

Itulah penjelasan sederhana mengapa kilat selalu mendahului guntur.

*******
(Ditulis oleh Doni Aris Yudono)

Sumber Gambar:

Saturday, December 8, 2012

10 Mengapa Pakaian Hitam Terasa Lebih Panas Daripada Pakaian Putih?


"Jangan pakai baju hitam siang-siang! Nanti panas!" Begitulah kata orang-orang yang sering kita dengar. Kebanyakan orang beranggapan bahwa baju hitam terasa panas karena warna hitam menyerap panas. Sebaliknya, baju putih terasa dingin karena warna putih memantulkan panas. Anggapan ini ada benarnya. Akan tetapi, perlu disimak penjelasan berikut ini agar fenomena tersebut dapat dipahami secara lebih komprehensif.

Pertama, dari mana munculnya warna hitam? Warna hitam adalah konsekuensi visual dari ketiadaan cahaya yang masuk ke mata kita. Maksudnya, ketika tidak ada cahaya masuk ke mata kita dari suatu area tertentu, maka mata kita akan mempersepsikan area tersebut sebagai warna hitam. Masih belum yakin? Mau bukti? Ini buktinya: Ingatlah ketika di malam hari listrik rumah Anda tiba-tiba padam. Apa yang terjadi? Anda akan melihat bahwa sekeliling Anda berwarna hitam. Mengapa? Ya karena semua lampu rumah Anda mati dan tidak ada cahaya yang masuk ke mata Anda. Jadi jelaslah bahwa ketiadaan cahaya yang terpantul ke mata membuat kita melihat warna hitam.

Bagaimana dengan warna putih? Warna putih merupakan konsekuensi visual dari terpantulnya cahaya secara penuh ke mata kita. Artinya, ketika suatu area tertentu memantulkan cahaya secara penuh ke mata kita, maka area tersebut akan tampak berwarna putih di mata kita.

Sekarang kita kembali kepada konteks pakaian. Baju yang sifatnya menyerap cahaya akan tampak berwarna hitam di mata kita, sedangkan baju yang sifatnya memantulkan cahaya secara penuh akan tampak berwarna putih di mata kita.

Cahaya merupakan salah satu bentuk energi. Energi dapat menimbulkan panas. So, semakin baju kita banyak menyerap cahaya, semakin panas pula yang kita rasakan. Hal ini terjadi pada baju berwarna hitam. Sebaliknya, semakin baju kita banyak memantulkan cahaya, semakin sejuk pula kita yang kita rasakan. Hal ini terjadi pada baju berwarna putih.

Jadi, bukan warna hitam yang menjadikan suatu baju menyerap cahaya/panas, tetapi penyerapan cahaya/panas-lah yang menjadikan baju tersebut berwarna hitam. Begitu pula dengan putih. Bukan warna putih yang menjadikan suatu baju memantulkan cahaya/panas, tetapi pemantulan cahaya/panas-lah yang menjadikan baju tersebut berwarna putih.

Warna merupakan akibat, bukan sebab.

*******
(Ditulis Oleh Doni Aris Yudono)

Sumber Gambar:

Thursday, December 6, 2012

0 Mengapa Tidur Di Kasur Terasa Lebih Nyaman Daripada Tidur Di Lantai?


Umumnya, kita tidur di kasur. Akan tetapi, mungkin Anda pernah mencoba tidur di lantai. Anda tentu merasakan bahwa tubuh Anda terasa sakit jika tidur di lantai. Sebaliknya, betapa nyamannya tidur di kasur. Mengapa perbedaan ini dapat terjadi?

Konsep fisika yang terlibat dalam kasus ini adalah tekanan. Tekanan (P) adalah perbandingan antara gaya tekan (F) dan luas area (A) yang mengalami gaya tersebut. Secara matematis, dinyatakan sebagai P = F/A.  Pada kasus perbedaan antara tidur di kasur dan di lantai, gaya tekan (F)-nya berasal dari berat badan kita sendiri. Yang perlu kita cermati adalah A-nya, yaitu luas area yang menopang berat badan kita. Perhatikanlah bahwa, berdasarkan persamaan P=F/A, tekanan berbanding terbalik dengan luas permukaan. Semakin besar luas permukaan, tekanannya akan semakin kecil. Sebaliknya, semakin kecil luas permukaan, tekanan akan semakin besar.

Ketika kita tidur di lantai yang keras, hanya titik-titik tertentu saja dari tubuh kita yang bersentuhan dengan lantai. Akibatnya, luas permukaan (A) yang menopang tubuh kita menjadi sangat kecil. Hasilnya, tekanan (P) yang kita rasakan pun besar, sehingga tubuh kita terasa sakit.

Sebaliknya, ketika kita tidur di kasur yang empuk, permukaan kasur menyesuaikan bentuknya dengan bentuk tubuh kita. Akibatnya, luas permukaan (A) yang menopang tubuh kita menjadi sangat besar. Hasilnya, tekanan (P) yang kita rasakan pun kecil, sehingga kita merasa begitu nyaman.

Begitulah ceritanya, tidur di kasur terasa lebih nyaman daripada tidur di lantai.

Berdasarkan prinsip yang telah saya paparkan tadi, dapatkah Anda jelaskan mengapa tidur di atas pecahan-pecahan kaca menjadi sangat bebahaya? ^_^

*******
(Ditulis Oleh Doni Aris Yudono)

Sumber Gambar:
 

DETEKTIF FISIKA Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates