Tuesday, January 20, 2015

13 Mengapa Tanggal 29 Februari Hanya Muncul 4 Tahun Sekali?


Apakah Anda punya teman atau keluarga yang lahir pada tanggal 29 Februari? Tanggal ini merupakan tanggal yang sangat spesial karena 29 Februari hanya muncul 4 tahun sekali. Tahun ketika tanggal 29 Februari muncul dikenal sebagai TAHUN KABISAT. Dengan demikian, bagi orang-orang yang terlahir pada tanggal 29 Februari, ulang tahun mereka hanya bisa dirayakan 4 tahun sekali. Kasihan ya…  ^_^ Hehehe…

Kenapa sih 29 Februari munculnya hanya 4 tahun sekali?

Rotasi Dan Revolusi Bumi: Menentukan Definisi Hari Dan Tahun

Penanggalan didasarkan pada pergerakan bumi. Pergerakan bumi mengitari sumbu rotasinya sendiri disebut ROTASI, sedangkan pergerakan bumi mengitari matahari disebut REVOLUSI. SATU HARI adalah lama waktu bumi untuk melakukan rotasi sebanyak satu putaran penuh, yaitu selama 24 jam. SATU TAHUN adalah lama waktu bumi untuk mengitari matahari (revolusi) sebanyak satu putaran penuh.

Sekarang pertanyaannya, satu tahun itu terdiri dari BERAPA HARI?

Secara umum, satu tahun terdiri dari 365 hari. Artinya, ketika bumi selesai melakukan satu putaran mengitari matahari, ia telah melakukan 365 kali putaran mengelilingi sumbunya sendiri. Hari sebanyak 365 ini kemudian dibagi menjadi 12 bulan, namun ini bukan pembagian yang merata. Ada bulan yang jumlah harinya 30, dan ada yang 31. Khusus untuk Bulan Februari, jumlah harinya 28. Berikut ini adalah distribusi banyaknya hari pada tiap bulan:

1) Januari = 31 hari
2) Februari = 28 hari
3) Maret = 31 hari
4) April = 30 hari
5) Mei = 31 hari
6) Juni = 30 hari
7) Juli = 31 hari
8) Agustus = 31 hari
9) September = 30 hari
10) Oktober = 31 hari
11) November = 30 hari
12) Desember = 31 hari

Nah, pada kenyataannya, jumlah hari dalam setahun itu TIDAK PERSIS 365 hari. Berdasarkan perhitungan astronomi, jumlah hari dalam setahun sebenarnya adalah 365 ¼ hari. Artinya, dalam satu kali revolusi, bumi melakukan rotasi sebanyak 365 ¼ putaran. Jadi, ada tambahan SEPEREMPAT hari setiap tahunnya. Nah, setelah 4 tahun berlalu, tambahan seperempat hari itu menjadi genap SEHARI, karena ¼ x 4 = 1. Dengan kata lain, setiap empat tahun, terdapat TAMBAHAN SATU HARI DALAM KALENDER.

Tambahan sehari ini kemudian dimasukkan dalam BULAN FEBRUARI. Alhasil, Bulan Februari memiliki memiliki hari sebanyak 29 pada tahun kabisat, yang hanya terjadi 4 tahun sekali, yaitu pada tahun-tahun yang habis dibagi 4, misalnya 2004, 2008, dan 2012. Hal ini mulai diberlakukan pada sistem kalender Julian.


Sekarang mari kita melangkah lebih jauh.

Sebenarnya, 365 ¼ hari itu sendiri bukan merupakan hitungan yang persis untuk periode satu tahun. Hitungan yang lebih tepat adalah  365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik. Jadi sebetulnya tambahan harinya itu kurang dari seperempat hari. Jika tepat seperempat hari, maka seharusnya 365 hari 6 jam. Nah, dengan kekurangan 11 menit 14 detik ini, maka tambahan sehari pada 29 Februari setiap 4 tahun sekali akan berakibat pada kelebihan hari dalam jangka panjang, karena 5 jam 48 menit 45,18 detik dianggap (dibulatkan) sebagai 6 jam (¼ hari). Jika hal ini tidak dikoreksi (yaitu kita selalu menambahkan 1 hari setiap 4 tahun), maka akan terjadi kelebihan 3 hari dalam 400 tahun dibandingkan dengan perhitungan yang seharusnya. 

Untuk menghilangkan kelebihan ini, maka dilakukan koreksi terhadap definisi tahun kabisat. Tahun kabisat lantas didefinisikan sebagai tahun yang habis dibagi 4 dan khusus untuk tahun abad, ia juga harus habis dibagi 400. Tahun abad adalah tahun kelipatan 100, misalnya tahun 1900 dan tahun 2000. Koreksi ini mulai diberlakukan pada sistem kalender Gregorian. Dengan ketentuan ini, maka tahun 1900 bukanlah tahun kabisat, karena meskipun habis dibagi 4, 1900 tidak habis dibagi 400. Tahun 2000 merupakan tahun kabisat karena ia habis dibagi 4 dan juga habis dibagi 400. Mengapa koreksi Gregorian ini dapat menghilangkan kelebihan 3 hari dalam 400 tahun seperti yang disebutkan sebelumnya?

Begini. Supaya lebih gampang dipahami, misalkan kita mulai dari tahun 0 (nol). Jika 29 Februari tetap ditambahkan setiap 4 tahun sekali (tanpa ada koreksi Gregorian), maka 400 tahun setelahnya, yaitu tahun 400, akan terdapat kelebihan 3 hari. Solusinya, pada tahun 100, 200, dan 300, 29 Februari tidak perlu ditambahkan (Februari hanya sampai tanggal 28), sehingga kita dapat menghapus kelebihan 3 hari tersebut dalam 400 tahun. Hal ini sesuai dengan definisi tahun kabisat Gregorian, karena 100, 200, dan 300 bukanlah kelipatan 400. Barulah pada tahun 400, kita dapat menambahkan kembali tanggal 29 Februari. Nanti pada tahun 500, 600, dan 700, 29 Februari tidak ditambahkan kembali. Barulah pada tahun 800 ia ditambahkan.

Sebetulnya dengan sistem kalender Gregorian ini, masih terdapat penyimpangan sebesar 1 hari dalam 3300 kurun waktu tahun, masih sangat lama. Nanti sajalah biarkan 3300 tahun lagi para ilmuwan memikirkan sistem kalender baru untuk mengoreksi peyimpangan ini :D

Jadi, tahun kabisat dan tanggal 29 Februari adalah sistem perhitungan buatan manusia untuk mengoreksi selisih beberapa menit yang terjadi dalam satu tahun ketika bumi selesai melakukan putaran terhadap matahari. Tahun kabisat terakhir terjadi pada tahun 2012. Ia akan datang lagi tahun 2016.

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:

Monday, January 12, 2015

20 Mengapa Siang Hari Di Kutub Lamanya 6 Bulan?


Kutub. Tempat di poros bumi ini memiliki banyak karakteristik yang senantiasa diteliti para ilmuwan, mulai dari flora-fauna, kekuatan gravitasi, medan magnetik, hingga laju pencairan esnya. Semua orang sudah tahu bahwa kutub  merupakan tempat yang sangat dingin dan tertutup oleh es, namun banyak orang yang belum tahu bahwa siang hari di kutub itu lamanya 6 bulan! Di Indonesia, siang hari lamanya hanya 12 jam. Mengapa siang hari di kutub bisa sampai berbulan-bulan begitu?

Bumi melakukan dua jenis gerak memutar sekaligus, yaitu ROTASI dan REVOLUSI. ROTASI adalah gerakan bumi mengitari porosnya sendiri, sedangkan REVOLUSI adalah pergerakan bumi mengitari matahari.

Rotasi Bumi

Secara umum, terjadinya siang dan malam disebabkan oleh rotasi bumi. Ketika bumi berotasi, sisi-sisi bumi bergantian dalam menerima sinar matahari. Bagian bumi yang menerima sinar matahari mengalami siang, dan bagian bumi yang berada di baliknya (tidak menerima sinar matahari) mengalami malam.

Terjadinya Siang Dan Malam

Pada kenyataannya, arah rotasi bumi tidak sama dengan arah revolusinya (bidang ekliptik). Kedua arah pergerakan itu membentuk sudut 23,5o satu sama lain, seperti tampak pada gambar di bawah ini.



Dengan adanya sudut 23,5o ini, kutub bumi mendapatkan sinar matahari selama 6 bulan terus-menerus (6 bulan = setengah putaran revolusi bumi) yaitu selama bulan Maret hingga September untuk KUTUB UTARA dan bulan September hingga Maret untuk KUTUB SELATAN. Ilustrasinya adalah sebagai berikut.


Perhatikan posisi bulan Juni pada gambar di atas. Pada posisi tersebut, daerah kutub utara condong ke arah matahari (sumbu rotasinya lebih dekat ke arah matahari), sehingga meskipun bumi berotasi, kutub utara tetap terkena sinar matahari. Beda halnya dengan daerah ekuator (khatulistiwa) yang selalu mengalami siang dan malam ketika bumi berotasi sepanjang tahun.

Supaya lebih jelas memahami bahwa kutub mengalami siang hari selama 6 bulan, perhatikan gambar berikut ini yang menampilkan posisi kutub yang tampak dari atas (daerah kutubnya bertitik kuning dan dilingkari garis merah).


Dengan penjelasan yang serupa, malam hari di kutub juga berlangsung selama 6 bulan.

Mungkin ada yang bertanya: Jika memang siang hari di kutub lamanya 6 bulan, kenapa es di kutub tidak meleleh semua ketika siangnya terjadi? Karena jika siang hari di sana berlangsung selama 6 bulan terus-menerus, tentu daerah kutub tersebut menjadi super panas. Pada kenyataannya, es di kutub baik-baik saja meskipun mengalami siang hari selama 6 bulan.

Nah, begini penjelasannya. PERTAMA, jarak matahari ke daerah kutub LEBIH JAUH daripada jarak matahari ke daerah ekuator bumi, sehingga daerah kutub menerima intensitas matahari yang lebih sedikit daripada daerah ekuator. KEDUA, sudut sinar matahari yang jatuh ke permukaan kutub hanyalah sudut yang kecil sehingga radiasi matahari banyak yang terpantul ke angkasa. Hal ini berbeda dengan daerah ekuator. Di daerah ekuator, sudut sinar mataharinya dapat mencapai 90 derajat (tegak lurus terhadap permukaan tanah) sehingga banyak radiasi matahari yang diserap.

Secara sederhana dapat dikatakan daerah kutub tidak pernah mengalami “siang bolong” di mana matahari tepat berada di atas kepala. Siang hari di kutub hanya mirip seperti pagi hari atau sore hari di daerah ekuator. Perhatikan posisi matahari ketika siang hari di daerah kutub pada gambar berikut.


Begitulah Tuhan merancang alam semesta ini secara luar biasa hebat. Ada daerah bumi yang setiap hari mengalami siang-malam, ada juga yang siang-malamnya berlangsung selama 6 bulan, ada yang hanya punya 2 jenis musim, ada yang punya 4 musim. Semua itu terjadi karena disebabkan oleh suatu hal yang sederhana saja, yaitu sudut 23,5o yang terbentuk antara arah rotasi dan arah revolusi bumi.

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:

Friday, January 9, 2015

3 Apa Perbedaan Antara Cuaca, Musim, Dan Iklim?


Banyak orang masih bingung tentang perbedaan antara cuaca, musim, dan iklim, sehingga pemahamannya terkadang rancu dan tertukar-tukar. Ada yang berkata, "Cuaca saat ini sedang kemarau," atau, "Iklim di Eropa saat ini adalah dingin dan bersalju." Bagaimana sebetulnya pengertian yang benar? Kali ini saya akan membahasnya supaya menjadi jelas. 

Pertama-tama, sebelum kita membahas tentang perbedaannya, perlu ditekankan dulu tentang PERSAMAANNYA. Cuaca, musim, dan iklim merupakan KONDISI UDARA (ATMOSFER) di suatu wilayah tertentu. Kondisi udara ini meliputi intensitas sinar matahari, suhu, kelembaban, dan aliran angin.

Sekarang PERBEDAANNYA. Cuaca, musim, dan iklim berbeda dalam hal LAMA WAKTU KEJADIANNYA.

CUACA terjadi dalam waktu paling singkat, terobservasi dalam hitungan HARI. Contoh cuaca adalah cerah, berawan, hujan, hujan es, dan badai. Perhatikanlah bahwa contoh-contoh keadaan atmosfer ini teramati secara harian. Coba ingat-ingat lagi ramalan cuaca di televisi, mereka berkata bahwa cuaca HARI INI cerah, sedangkan cuaca ESOK HARI sedikit berawan, misalnya.

Cuaca: Kondisi Atmosfer Harian

MUSIM terjadi dalam waktu yang LEBIH LAMA daripada cuaca. Musim terobservasi dalam hitungan BULAN. Contoh cuaca adalah kemarau, penghujan, musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Ingat-ingatlah lagi semua musim ini, mereka diamati secara bulanan, bukan?

Di wilayah khatulistiwa, seperti Indonesia, musimnya hanya ada dua dalam setahun, sehingga masing-masing musim terjadi selama 6 bulan. Musim-musim daerah khatulistiwa tersebut adalah:

1) musim KEMARAU (terjadi selama bulan April hingga September) 

2) musim PENGHUJAN (terjadi selama bulan Oktober hingga Maret).

Di wilayah utara dan selatan khatulistiwa, musimnya ada empat dalam setahun, sehingga masing-masing musim terjadi selama 3 bulan. Musim-musim daerah non-khatulistiwa tersebut adalah:

1) MUSIM SEMI
    [21 Maret - 21 Juni (utara), dan 23 September - 21 Desember  (selatan)]

2) MUSIM PANAS
    [21 Juni - 23 September (utara), dan 21 Desember - 21 Maret (selatan)]

3) MUSIM GUGUR
    [23 September-21 Desember (utara), dan 21 Maret - 21 Juni (selatan)]

4) MUSIM DINGIN
    [21 Desember - 21 Maret (utara), dan 21 Juni - 23 September (selatan)]
  
Perhatikan bahwa MUSIM TERDIRI DARI CUACA-CUACA yang memiliki pola tertentu. Misalnya, MUSIM PANAS terdiri dari cuaca harian yang terang, terik, dan kering, sedangkan MUSIM DINGIN terdiri dari cuaca harian yang remang, dingin, dan basah.

4 Musim Di Wilayah Sub-Tropis: Semi - Panas - Gugur - Dingin

IKLIM terjadi dalam waktu yang lebih lama daripada musim. Iklim terobservasi dalam hitungan TAHUN. Contoh iklim adalah tropis, sub-tropis, dan iklim kutub. Iklim lazimnya telah melekat pada identitas suatu wilayah karena iklim merupakan kumpulan pola musim yang khas sebagai satu kesatuan. Misalnya, Indonesia dikenal sebagai negara beriklim tropis karena musimnya hanya 2 (panas-penghujan), sedangkan Inggris dikenal sebagai negara beriklim sub-tropis karena punya 4 musim (panas-gugur-dingin-semi). Kutub utara dan selatan bumi punya iklimnya sendiri, karena wilayah kutub selalu tertutup tertutup es dan selalu super dingin sepanjang tahun.

Iklim Kutub: Putih Es Salju Sepanjang Tahun

Begitulah manusia menciptakan pengklasifikasian kondisi atmosfer menjadi cuaca, musim, dan iklim sehingga mudah untuk dipelajari.

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:

Thursday, January 8, 2015

3 Apakah Kemagnetan Bumi Sama Dengan Gravitasi?


Ketika saya menjelaskan tentang sifat kemagnetan bumi, banyak murid saya yang bertanya, “Pak, berarti kemagnetan bumi lah yang menyebabkan tertariknya semua benda ke bumi, ya?”

Benarkah hal itu?

Tidak. Kemagnetan bumi bukanlah gravitasi. Mereka merupakan dua hal yang berbeda.

PERBEDAAN PERTAMA
Ketika kita berbicara tentang kemagnetan bumi, maka kita berbicara tentang gaya tarik bumi terhadap benda-benda ferromagnetik (besi, baja, dll), sedangkan ketika kita berbicara tentang gravitasi, maka tidak ada pengecualian. Semua benda dapat ditarik oleh gravitasi bumi, baik itu benda ferromagnetik atau bukan. Besi, kayu, batu, pasir, udara, semuanya ditarik oleh gravitasi menuju bumi. Jadi, gravitasi menarik segala sesuatu, sedangkan kemagnetan bumi hanya menarik benda-benda ferromagnetik.

PERBEDAAN KEDUA
Baik kemagnetan bumi maupan gravitasi, mereka semua merupakan gaya. Dalam fisika, gaya merupakan besaran vektor karena gaya memiliki arah. Arah dari gaya kemagnetan bumi adalah menuju kutub-kutub bumi (kutub utara atau kutub selatan), sedangkan arah gaya gravitasi adalah menuju pusat bumi. Itulah sebabnya, arah pergerakan kompas (yang ditarik oleh gaya kemagnetan bumi) arahnya adalah ke utara dan selatan kutub bumi, sedangkan arah benda yang jatuh (akibat gaya gravitasi) adalah ke bawah (ke pusat bumi).

PERBEDAAN KETIGA
Gravitasi bumi merupakan gaya yang sangat besar. Bayangkan, molekul udara yang super ringan saja dapat ditarik oleh gravitasi sehingga udara tetap menyelubungi bumi (Andai saja gravitasi bumi lemah, udara akan terbang hilang dan lepas ke luar angkasa). Sebaliknya, kemagnetan bumi merupakan gaya yang sangat kecil. Sebagai buktinya, coba lempar sebuah magnet batangan ke udara, niscaya magnet itu akan jatuh ke bawah. Jika gaya kemagnetan bumi besar, tentu magnet batangan itu akan langsung melayang ke kutub utara atau selatan bumi ketika dilemparkan. Adapun jarum kompas yang dapat tertarik oleh kemagnetan bumi adalah karena jarum kompas itu sangat ringan dan ia diletakkan pada tempat yang minim gesekan sehingga dapat bergerak bebas.

Jadi, jangan lagi rancu antara gaya kemagnetan bumi dan gravitasi, ya? ^_^

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

SUMBER GAMBAR:

Wednesday, January 7, 2015

6 Mengapa Air dan Minyak Tak Mau Bersatu?


Perhatikanlah makanan berkuah yang mengandung minyak seperti rawon dan soto, minyaknya selalu berada di atas ainya. Selain itu, minyak juga tidak bercampur dengan air, seperti yang tampak pada gambar di atas. Apa yang terjadi? Mengapa minyak dan air tak mau bersatu?

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya sederhana saja: Minyak dan air tak mau bersatu karena mereka memiliki CARA YANG BERBEDA untuk bersatu. Maksudnya begini. Molekul-molekul air bersatu dengan cara ikatan POLAR, sedangkan molekul-molekul minyak bersatu dengan cara ikatan NON-POLAR.

Sekarang pertanyaannya, apa itu IKATAN POLAR?

Seperti kita ketahui, molekul air merupakan gabungan antara dua atom hidrogen (H) dan satu atom oksigen (O) sehingga rumus molekulnya adalah H2O. Berikut ini adalah ilustrasi molekul air.


Atom H dan O tersambung melalui ikatan kovalen.  Atom H memiliki 1 buah elektron valensi (elektron terluar), sedangkan atom O memiliki 6 buah elektron valensi. Agar sebuah atom menjadi stabil, elektron valensi mereka harus berjumlah 2 atau 8. Atom H punya 1 elektron valensi sehingga atom H mengikatkan diri dengan salah satu elektron valensi atom O. Dengan demikian, masing-masing atom H kini memiliki 1+1=2 elektron valensi dan menjadi stabil karenanya. Seiring dengan itu, karena atom O terikat dengan 2 atom H, maka atom O mendapat tambahan 2 elektron valensi sehingga total elektron valensinya kini adalah 6+2=8 buah dan menjadi stabil karenanya.

Perhatikan lagi gambar molekul air di atas. Pada bagian luar atom hidrogen, tidak ada lapisan elektron valensi. Inti atom hidrogen (seperti halnya atom-atom lainnya) mengandung proton yang bermuatan positif. Hal ini mengakibatkan sisi kedua atom hidrogen pada molekul air bermuatan positif (+). Pada sisi yang berlawanan, yaitu sisi luar atom oksigen, ada eketron valensi yang menyelubungi. Elektron bermuatan negatif sehingga sisi luar atom oksigen pada molekul air pun bermuatan negatif (-). Nah inilah yang menyebabkan molekul air bersifat polar. Polar artinya kutub. Molekul air bersifat polar karena memiliki kutub positif (pada bagian luar atom-atom hidrogennya) dan kutub negatif (pada bagian luar atom oksigennya).

Di dalam air, kutub negatif sebuah molekul air akan berikatan dengan kutub positif molekul air lainnya. Dengan kata lain, ketika molekul-molekul air bersatu, atom H (+) akan berikatan dengan atom O (-). Cara bersatunya molekul-molekul air ini diilustrasikan pada gambar berikut.


Nah, inilah cara molekul air bersatu, yaitu berdasakan jenis muatan (polaritas).  Jadi, suatu senyawa dapat disatukan dengan air apabila senyawa tersebut memiliki sifat polaritas seperti air. Contohnya adalah garam dapur (NaCl). Sisi Na bermuatan positif sedangkan sisi Cl bermuatan negatif. Sehingga ketika NaCl dicampur dengan air, Na (+) akan terikat dengan O (-), sedangkan Cl (-) akan terikat dengan H (+).

Sekarang kita kembali pada minyak. Minyak bukan merupakan senyawa polar. Artinya, tidak ada bagian-bagian minyak yang bermuatan positif ataupun negatif. Semuanya netral-netral saja, sehingga minyak disebut senyawa non-polar. Minyak bersatu dengan menggunakan cara yang berbeda dengan air, sehingga minyak dan air pun tidak dapat menyatu.

Berikut ini adalah ilutrasi dari penyatuan molekul-molekul minyak. Perhatikan bahwa penyatuannya asal bertumpuk saja, bukan seperti air yang sambungannya harus sesuai antara kutub positif dan negatif.

 
Misalnya ketika jari-jari tangan kita terkena air dan minyak, maka ilustrasinya adalah seperti gambar di bawah. Yang hitam-putih adalah molekul minyak, sedangkan yang merah-putih adalah molekul air.


Sekarang, jika tangan kita terkena minyak seperti itu, kita dapat membersihkannya dengan menggunakan air, namun harus dengan bantuan sabun. Sabun dapat menyatukan minyak dan air sehingga kita bisa membersihkan tangan kita dari kotoran yang berminyak. Bagaimana sabun melakukannya? Perhatikan gambar berikut.


Molekul sabun memiliki dua sisi. Sisi yang satu bersifat polar (sehingga dapat mengikat air), sedangkan sisi yang lain bersifat non-polar (sehingga dapat mengikat minyak). Dengan cara ini, sabun dapat mengikat air dan minyak sehingga kedua jenis cairan yang selalu bermusuhan ini dapat disatukan (meskipun secara tidak langsung, yaitu dengan sabun sebagai penghubungnya). Larutan sejenis sabun ini disebut emulsifier. Contoh lain dari emulsifier adalah deterjen.

Jika kita tarik falsafahnya dalam kehidupan, terkadang ada dua pihak yang saling bermusuhan seperti air dan minyak yang tak mau bersatu. Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan pihak penengah (seperti emulsifier) yang menjembatani kedua pihak sehingga tercipta persatuan di antara kita ^_^

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

SUMBER GAMBAR:

Tuesday, January 6, 2015

0 Mengapa Ada Perbedaan Waktu Di Indonesia?


Jika di Jakarta pukul 8:00 pagi, maka di saat yang sama di Denpasar adalah pukul 09:00 pagi dan di Jayapura adalah pukul 10:00 pagi. Jika Anda naik pesawat dari Jawa ke Bali, maka ketika sampai di bandara Bali, Anda akan diingatkan oleh pramugari tentang perbedaan waktu sebanyak 1 jam antara Jawa dan Bali, di mana waktu Bali lebih “duluan” daripada waktu Jawa. Kebetulan saya besar di Papua. Ketika menonton TV, maka jam tayang program acara TV biasanya dinyatakan dalam WIB, yaitu singkatan dari Waktu Indonesia Barat. Saya pun telah terbiasa untuk melakukan “konversi” jam tayang tersebut. Jika di TV dinyatakan bahwa program acara tertentu akan tayang pukul 15:00 WIB, maka dengan cepat saya mafhum bahwa acara tersebut akan tayang pukul 17:00 di Papua.

Mengapa hal semacam ini terjadi? Mengapa ada perbedaan waktu di Indonesia?

Pertama-tama kita perlu menyadari bahwa perbedaan waktu tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal ini terjadi di seluruh bumi. Contoh gampangnya adalah siaran sepak bola. Ketika kita menonton siaran live sepak bola eropa, misalnya, maka kita di sini nontonnya tengah malam, sedangkan kondisi lapangan di sana terang-benderang di siang hari. Ini disebabkan oleh perbedaan waktu yang sangat jauh antara Indonesia dan Eropa.

Penjelasan mengenai perbedaan waktu seperti ini akan mudah dimengerti ketika kita memperhatikan pergerakan matahari dan bumi. Perhatikan gambar berikut.

Pada kondisi gambar di atas, bagian bumi yang satu sedang mengalami siang dan, pada saat yang sama, bagian bumi yang lain sedang mengalami malam. Dari sini jelas tampak bahwa kedua tempat tersebut harus memiliki perbedaan waktu. Kondisi pada gambar di atas merupakan contoh ekstrim tentang perbedaan waktu, di mana kedua tempat tersebut terletak pada sisi bumi yang berlawanan. Prinspnya, setiap tempat di bumi mengalami perbedaan waktu yang disebabkan oleh perbedaan posisi mereka terhadap posisi matahari. Sekarang mari kita kembali pada kasus perbedaan waktu di Indonesia.

Antara Indonesia bagian barat, tengah, dan timur, perbedaan waktunya tidak ekstrim. Artinya, jika Bandung sedang berada pada siang hari, maka Merauke juga berada pada siang hari, namun waktu mereka tetap berbeda. Mengapa berbeda? Karena sudut yang dibentuk oleh posisi matahari dan permukaan tanah adalah berbeda antara di Bandung dan di Merauke pada saat yang sama.

Saat matahari mulai menyingsing di pagi buta, sudut yang dibentuk oleh sinar matahari terhadap permukaan tanah adalah mendekati nol derajat. Ketika siang bolong, sudutnya menjadi tegak lurus (90 derajat). Ketika menjelang malam, sudutnya mendekati 180 derajat.


Posisi matahari bergerak dari timur ke barat, sehingga belahan bumi bagian timur “lebih dulu menerima” sinar matahari  daripada belahan bumi bagian barat. Artinya, matahari terbit lebih dulu di Merauke, baru setelah beberapa jam kemudian matahari terbit di Bandung. Datangnya malam juga demikian. Merauke lebih dulu mengalami malam daripada Bandung. Nah, karena pada saat yang sama posisi matahari berbeda-beda antara Indonesia barat, tengah, dan timur, maka perlu dibuat perbedaan waktu untuk ketiga wilayah tersebut. Perbedaannya adalah sebanyak 1 jam antara dua wilayah yang berbatasan. Maksudnya, waktu di Indonesia tengah  adalah 1 jam lebih lambat daripada waktu di Indonesia bagian timur, dan waktu di Indonesia barat  adalah 1 jam lebih lambat daripada waktu di Indonesia bagian tengah.

Sekarang pertanyaannya, mengapa perbedaannya harus 1 jam?

Penetapan beda 1 jam itu hanya untuk mempermudah pengaturan jam. Sebetulnya, waktu antar kota-kota sendiri pun saling berbeda, meskipun sama-sama berada di wiayah Indonesia barat, misalnya. Sebagai contoh, berdasarkan pengaturan beda 1 jam ini, Semarang dan  Surabaya berada pada zona waktu yang sama, karena kedua kota tersebut berada di wilayah Indonesia barat. Akan tetapi sebenarnya waktu di Semarang berbeda beberapa menit dari waktu di Surabaya, akibat dari sudut sinar matahari yang hanya berbeda beberapa derajat di kedua kota tersebut.

Namun jika kita harus menetapkan sampai sedetail itu, maka aturan perbedaan waktu di Indonesia akan sangat rumit. Jauh lebih mudah jika kita katakan saja bahwa perbedaan antara Indonesia barat, tengah, dan timur adalah 1 jam. Jadi, Semarang dan Surabaya berada pada pukul yang sama, namun mereka berbeda 1 jam lebih lambat daripada waktu di Denpasar.

Pernah ada wacana nasional untuk menyeragamkan saja waktu di Indonesia sehingga antara Indonesia barat, tengah, dan timur tidak ada perbedaan jam. Namun usul ini sulit dilaksanakan. Jika usul ini direalisasikan, maka misalnya jam masuk anak sekolah adalah jam 7 pagi. Maka jam 7 pagi di Jayapura sudah terang-benderang sehingga anak-anak sekolah dapat berangkat dengan nyaman, namun jam 7 pagi di Medan masih gelap-gulita karena sebenarnya mereka masih berada di waktu subuh ketika matahari masih sembunyi malu-malu, sehingga anak-anak sekolah tidak dapat berangkat dengan nyaman.  

*******
Ditulis Oleh Doni Aris Yudono

Sumber Gambar:
 

DETEKTIF FISIKA Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates